Memasuki kalender kompetisi yang semakin padat, para atlet bulu tangkis di tanah air dituntut untuk memiliki ketahanan tubuh di atas rata-rata manusia normal. Menyadari tantangan besar yang ada di depan mata, jajaran pelatih di Riau mulai menerapkan standar baru yang sangat ketat. Bentuk Persiapan Fisik Ekstrim yang dijalankan di pusat pelatihan ini bertujuan untuk memastikan bahwa tidak ada satu pun pemain yang mengalami penurunan performa saat memasuki gim penentuan atau set ketiga yang menguras tenaga dan mental secara bersamaan.
Para atlet PBSI Pekanbaru kini harus menjalani rutinitas latihan yang jauh lebih berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Program latihan dimulai sejak fajar menyingsing dengan fokus pada penguatan otot jantung dan kapasitas paru-paru melalui lari jarak jauh dan latihan interval intensitas tinggi. Tidak hanya itu, mereka juga diwajibkan mengikuti sesi latihan beban di gym yang telah dipersonalisasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing posisi, baik itu spesialis tunggal yang membutuhkan kelincahan maupun pemain ganda yang memerlukan daya ledak otot lengan yang luar biasa.
Langkah ini diambil sebagai bentuk keseriusan pengurus Jelang Musim kompetisi yang diprediksi akan sangat kompetitif. Pekanbaru ingin membuktikan bahwa atlet daerah memiliki kualitas fisik yang setara dengan atlet yang berlatih di klub-klub besar di Pulau Jawa. Pelatih kepala menekankan bahwa teknik yang indah tidak akan berarti apa-apa jika kaki atlet sudah gemetar di menit ke-60 pertandingan. Oleh karena itu, latihan fisik yang melampaui batas kenyamanan ini dianggap sebagai investasi wajib agar mereka mampu menjaga konsistensi pukulan dan kecepatan gerak dari babak awal hingga partai puncak.
Fokus utama dari seluruh rangkaian program ini adalah menyongsong Turnamen Nasional yang akan menjadi panggung pembuktian bagi bakat-bakat muda Sumatera. Dalam turnamen sebesar ini, faktor mental seringkali dipengaruhi oleh kondisi fisik; ketika tubuh bugar, kepercayaan diri secara otomatis akan meningkat. Evaluasi dilakukan secara berkala melalui tes VO2 Max dan pemantauan kadar asam laktat untuk memastikan bahwa beban latihan yang diberikan tidak menyebabkan cedera namun tetap efektif dalam meningkatkan batas kemampuan fisik para pemain ke level tertinggi yang bisa mereka capai.