Dalam dunia bulutangkis yang menuntut gerakan tangan eksplosif dan berulang, risiko cedera otot dan tendon selalu membayangi. Salah satu kondisi yang cukup sering dialami oleh atlet, meskipun namanya sering dikaitkan dengan olahraga tenis, adalah Tennis Elbow. PBSI Pekanbaru dalam workshop terbarunya menggarisbawahi bahwa pemahaman mendalam mengenai cedera ini adalah langkah krusial bagi setiap pemain badminton untuk menjaga keberlangsungan karier mereka. Tennis Elbow secara medis dikenal sebagai lateral epicondylitis, yaitu peradangan pada tendon yang menghubungkan otot lengan bawah ke tonjolan tulang di bagian luar siku.
Penyebab utama dari cedera ini pada pemain bulutangkis adalah penggunaan teknik pukulan yang tidak efisien atau beban latihan yang berlebihan tanpa diikuti masa pemulihan yang cukup. Saat melakukan backhand atau smash dengan posisi pergelangan tangan yang tidak tepat, beban kerja yang seharusnya terdistribusi ke seluruh otot lengan justru terfokus pada tendon di area siku. Jika hal ini terjadi secara terus-menerus, maka terjadilah robekan mikro yang memicu peradangan kronis. Gejala awalnya biasanya berupa rasa nyeri yang tajam di sekitar siku saat menggenggam raket, yang jika diabaikan, akan berkembang menjadi rasa kaku dan melemahnya kekuatan cengkeraman tangan.
Workshop ini memberikan edukasi praktis mengenai penanganan awal yang bisa dilakukan oleh atlet mandiri maupun tim medis klub. Langkah pertama yang sangat krusial adalah memberikan istirahat total bagi lengan yang cedera (rest). Melanjutkan aktivitas latihan di tengah rasa nyeri hanya akan memperburuk kerusakan jaringan tendon. Selain itu, teknik kompres dingin (ice pack) sangat disarankan untuk mengurangi peradangan dan nyeri akut. Setelah fase nyeri akut mereda, fisioterapis akan menyarankan latihan peregangan dan penguatan otot lengan bawah secara progresif untuk mengembalikan fleksibilitas serta kekuatan jaringan yang sempat melemah.
PBSI Pekanbaru juga menekankan pentingnya evaluasi teknik. Seringkali, cedera siku terjadi karena atlet terlalu mengandalkan otot lengan bawah saja, tanpa memanfaatkan rotasi bahu dan kekuatan otot inti (core) saat mengayun raket. Perbaikan posisi raket dan cara memegang (grip) yang ergonomis bisa mengurangi tekanan yang diterima oleh tendon siku secara signifikan. Selain itu, penggunaan raket dengan bobot dan keseimbangan (balance point) yang sesuai dengan karakteristik kekuatan tangan masing-masing atlet dapat membantu mengurangi beban kerja otot secara dramatis.